"Selamat Datang di Website Resmi Puskesmas Danasari"..."Ayo Stop Buang Air Besar Sembarangan"..."Periksakan Kehamilan Ibu secara Rutin minimal 4 kali selama kehamilan"

Rabu, 29 Januari 2014

Permasalahan dan Pencegahan Penyakit Kusta

Penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular yang masih merupakan masalah nasional kesehatan masyarakat, dimana beberapa daerah di Indonesia prevalens rate masih tinggi dan permasalahan yang ditimbulkan sangat kompleks. Penyakit ini sering kali menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan nasional.


Penyakit kusta bukan penyakit keturunan atau kutukan Tuhan. Penyakit Kusta adalah sebuah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini menyerang saraf tepi dan mukosa dari saluran pernapasan atas. Lesi pada kulit adalah tanda yang bisa diamati dari luar. Bila tidak ditangani, kusta dapat menyebabkan kerusakan pada kulit, saraf-saraf, anggota gerak, dan mata. Kelompok yang berisiko tinggi terkena kusta adalah yang tinggal di daerah endemik dengan kondisi yang buruk seperti tempat tidur yang tidak memadai, air yang tidak bersih, asupan gizi yang buruk, dan adanya penyertaan penyakit lain seperti HIV yang dapat menekan sistem imun. Pria memiliki tingkat terkena kusta dua kali lebih tinggi dari wanita.

Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah dan tidak perlu ditakuti tergantung dari beberapa faktor yaitu antara lain:
  1. Faktor Kuman kusta
Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa kuman kusta yang masih utuh (solid) bentuknya, lebih besar kemungkinan menyebabkan penularan daripada kuman yang tidak utuh lagi, diketahui hanya kuman kusta yang utuh (solid) saja dapat menimbulkan penularan (Depkes RI, 2002).
  1. Faktor Imunitas
Sebagian manusia kebal terhadap penyakit kusta (95%). Dari hasil penelitian menunjukan bahwa dari 100 orang yang terpapar, 95 orang yang tidak menjadi sakit, 3 orang sembuh sendiri tanpa obat dan 2 orang menjadi sakit. Hal ini belum lagi mempertimbangkan pengaruh pengobatan (Depkes RI, 2002).
  1. Keadaan Lingkungan
Keadaan rumah yang berjejal yang biasanya berkaitan dengan kemiskinan, merupakan faktor penyebab tingginya angka kusta. Sebaliknya dengan meningkatnya taraf hidup dan perbaikan imunitas merupakan faktor utama mencegah munculnya kusta.
  1. Faktor Umur
Penyakit kusta jarang ditemukan pada bayi. Incidence Rate penyakit ini meningkat sesuai umur dengan puncak pada umur 10 sampai 20 tahun dan kemudian menurun. Prevalensinya juga meningkat sesuai dengan umur dengan puncak umur 30 sampai 50 tahun dan kemudian secara perlahan-lahan menurun.

Penyakit Kusta dibedakan menjadi 2 yaitu Kusta Kering dan Kusta Basah. Kusta Kering, jenis kusta ini bisa dianggap tidak menular karena jumlah basil lepra yang berada di tubuh penderita masih sedikit, tapi bila kusta kering ini tidak diobati maka akan menjadi kusta basah yang bisa menularkan ke orang lain. Sedangkan, Kusta Basah, jenis kusta ini yang bisa menularkan ke orang lain karena jumlah basilnya sangat banyak bisa ratusan juta. Basil Lepra ini dapat ditemukan di hati, otak, ginjal, mata, hidung, kulit, dll.

Seseorang yang menderita Kusta biasanya mengalami beberapa tanda-tanda. Tanda-tanda penyakit Kusta yaitu antara lain tanda-tanda pada kulit dan pada syaraf. Tanda-tanda pada kulit meliputi : kelainan pada kulit berupa bercak kemerahan, keputihan, atau benjolan, kulit mengkilap, bercak yang tidak gatal, adanya bagian tubuh yang tidak berkeringat dan tidak berambut, lepuh tapi tidak nyeri. Tanda-tanda pada syaraf meliputi : rasa kesemutan, tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan atau muka, gangguan kerak pada anggota badan atau bagian muka, adanya kecacatan (deformitas) pada bagian tubuh, terdapat luka tapi tidak sakit.

Penularan penyakit kusta dapat melalui kontak kulit yang erat dan lama.
Kuman kusta itu bukan kuman yang 'ganas' jadi penularannya agak sulit. Makanya dibutuhkan waktu yang lama dan kontak yang erat supaya si kuman ini bisa ditransmisikan dalam jumlah yang banyak ke orang lain. Kemudian melalui udara (aerogen)
ingus orang yang menderita kusta ditemukan kuman ini.

Sejak 1995, WHO memberikan paket obat terapi kusta secara gratis pada negara endemik, melalui Kementrian Kesehatan. Pengobatan multiobat masih efektif dan pasien tidak lagi terinfeksi pada pemakaian bulan pertama. Cara ini aman dan mudah. Jangka waktu pemakaian telah tercantum pada kemasan obat. Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa kuman kusta yang masih utuh bentuknya, lebih besar kemungkinan menimbulkan penularan dibandingkan dengan yang tidak utuh. Sehingga, pengobatan kepada penderita kusta adalah merupakan salah satu cara pemutusan mata rantai penularan.

Pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari penyakit Kusta yaitu dengan mencegah kontak dengan kulit penderita, meningkatkan sistem imun dengan melakukan hidup sehat , meningkatkan kebersihan lingkungan, diagnosis dan pengobatan yang segera.


Oleh : Niswatun Nafi’ah, SKM
Penyuluh Kesehatan Masyarakat Puskesmas Danasari

Read more.....