"Selamat Datang di Website Resmi Puskesmas Danasari"..."Ayo Stop Buang Air Besar Sembarangan"..."Periksakan Kehamilan Ibu secara Rutin minimal 4 kali selama kehamilan"

Senin, 10 Februari 2014

Pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Sekolah

UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) adalah usaha untuk membina dan mengembangkan kebiasaan serta perilaku hidup sehat pada peserta didik usia sekolah yang dilakukan secara menyeluruh dan terpadu. Dalam Undang-undang nomor 36 Tahun 2009 pasal 79 tentang kesehatan, ditegaskan bahwa “Kesehatan Sekolah” diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh dan berkembang secara harmonis dan setinggi-tingginya sehingga diharapkan dapat menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.


Titik penting pada pengembangan kesehatan, oleh Badan Kesehatan Dunia WHO disebut Health Promoting Schools atau Promosi Kesehatan Sekolah sehingga peserta didik mampu memiliki kesehatan untuk hidup, belajar, dan bekerja. Promosi Kesehatan Sekolah dilakukan melalui UKS. Sedangkan UKS sendiri mempunyai tujuan mengarah pada praktik perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di sekolah. PHBS terdiri dari sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah dasar atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran. Sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat.

Munculnya berbagai penyakit yang sering menyerang anak usia sekolah (6-10 tahun), ternyata umumnya berkaitan dengan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai PHBS di sekolah merupakan kebutuhan mutlak dan dapat dilakukan melalui pendekatan UKS.

Sasaran pembinaan PHBS di Sekolah yaitu siswa, warga sekolah yakni Kepala sekolah, guru, karyawan sekolah, komite sekolah dan orang tua siswa serta masyarakat lingkungan sekolah, seperti penjaga kantin, satpam dan lain-lain.

Manfaat pembinaan PHBS di sekolah antara lain : terciptanya sekolah yang bersih dan sehat, sehingga siswa, guru dan masyarakat lingkungan sekolah terlindungi  dari  berbagai gangguan dan ancaman penyakit, meningkatnya semangat proses belajar mengajar yang berdampak pada prestasi belajar siswa, citra sekolah sebagai institusi pendidikan semakin meningkat sehingga mampu menarik minat orang tua, meningkatnya citra pemerintah daerah di bidang pendidikan, menjadi percontohan sekolah sehat bagi daerah lain.

Sosialisasi Penerapan PHBS di Sekolah meliputi : 1) sosialisasi penerapan PHBS di sekolah di lingkungan internal antara lain : penggunaan jamban sehat dan air bersih, pemberantasan sarang nyamuk (PSN), larangan merokok di sekolah dan Kawasan Tanpa Rokok di sekolah, dan membuang sampah di tempatnya, 2) sosialisasi tugas dan penanggungjawab PHBS di sekolah.

Penerapan PHBS di sekolah meliputi : menanamkan nilai-nilai untuk ber-PHBS kepada siswa sesuai kurikulum yang berlaku, menanamkan nilai-nilai untuk ber-PHBS kepada siswa yang dilakukan di luar jam pelajaran biasa, seperti:  kerja bakti dan lomba kebersihan kelas, aktivitas kader kesehatan sekolah/dokter kecil, pemeliharaan jamban sekolah, pemeriksaan jentik nyamuk di sekolah, demo/gerakan cuci tangan dan gosok gigi yang baik dan benar, pembudayaan olah raga yang teratur dan terukur, pemeriksaan rutin kebersihan kuku-rambut-telinga-gigi dan sebagainya, bimbingan hidup bersih dan sehat melalui konseling, kegiatan penyuluhan dan latihan ketrampilan dengan melibatkan peran aktif siswa, guru dan orang tua antara lain melalui penyuluhan kelompok, pemutaran kaset radio/film, penempatan, dan media poster, penyebaran leaflet dan membuat majalah dinding.

Kegiatan PHBS di sekolah meliputi : menggunakan air bersih, menggunakan jamban yang bersih dan sehat, membuang sampah pada tempatnya, cuci tangan dengan air mengalir dan memakai sabun, mengkonsumsi jajanan sehat, melakukan olahraga secara teratur, memberantas jentik nyamuk, tidak merokok di sekolah, menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan minimal 6 bulan sekali, kebiasaan memotong dan membersihkan kuku, menggosok gigi minimal 2 kali sehari, memakai sepatu, pemanfaatan ruang UKS di sekolah, terdapat dokter kecil/kader kesehatan remaja, serta adanya Dana sehat untuk kegiatan UKS di  sekolah.

Peserta didik tidak hanya berorientasi pada head (pengetahuan), heart (sikap/nilai) dan hand (ketrampilan). Namun masih diperlukan faktor kesehatan (health). Dalam hal ini sekolah memiliki peran yang penting untuk menciptakan dan meningkatkan kesehatan peserta didik.

Oleh : Niswatun Nafi’ah, SKM
Penyuluh Kesehatan Masyarakat Puskesmas Danasari


Read more.....

Rabu, 29 Januari 2014

Permasalahan dan Pencegahan Penyakit Kusta

Penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular yang masih merupakan masalah nasional kesehatan masyarakat, dimana beberapa daerah di Indonesia prevalens rate masih tinggi dan permasalahan yang ditimbulkan sangat kompleks. Penyakit ini sering kali menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan nasional.


Penyakit kusta bukan penyakit keturunan atau kutukan Tuhan. Penyakit Kusta adalah sebuah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini menyerang saraf tepi dan mukosa dari saluran pernapasan atas. Lesi pada kulit adalah tanda yang bisa diamati dari luar. Bila tidak ditangani, kusta dapat menyebabkan kerusakan pada kulit, saraf-saraf, anggota gerak, dan mata. Kelompok yang berisiko tinggi terkena kusta adalah yang tinggal di daerah endemik dengan kondisi yang buruk seperti tempat tidur yang tidak memadai, air yang tidak bersih, asupan gizi yang buruk, dan adanya penyertaan penyakit lain seperti HIV yang dapat menekan sistem imun. Pria memiliki tingkat terkena kusta dua kali lebih tinggi dari wanita.

Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah dan tidak perlu ditakuti tergantung dari beberapa faktor yaitu antara lain:
  1. Faktor Kuman kusta
Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa kuman kusta yang masih utuh (solid) bentuknya, lebih besar kemungkinan menyebabkan penularan daripada kuman yang tidak utuh lagi, diketahui hanya kuman kusta yang utuh (solid) saja dapat menimbulkan penularan (Depkes RI, 2002).
  1. Faktor Imunitas
Sebagian manusia kebal terhadap penyakit kusta (95%). Dari hasil penelitian menunjukan bahwa dari 100 orang yang terpapar, 95 orang yang tidak menjadi sakit, 3 orang sembuh sendiri tanpa obat dan 2 orang menjadi sakit. Hal ini belum lagi mempertimbangkan pengaruh pengobatan (Depkes RI, 2002).
  1. Keadaan Lingkungan
Keadaan rumah yang berjejal yang biasanya berkaitan dengan kemiskinan, merupakan faktor penyebab tingginya angka kusta. Sebaliknya dengan meningkatnya taraf hidup dan perbaikan imunitas merupakan faktor utama mencegah munculnya kusta.
  1. Faktor Umur
Penyakit kusta jarang ditemukan pada bayi. Incidence Rate penyakit ini meningkat sesuai umur dengan puncak pada umur 10 sampai 20 tahun dan kemudian menurun. Prevalensinya juga meningkat sesuai dengan umur dengan puncak umur 30 sampai 50 tahun dan kemudian secara perlahan-lahan menurun.

Penyakit Kusta dibedakan menjadi 2 yaitu Kusta Kering dan Kusta Basah. Kusta Kering, jenis kusta ini bisa dianggap tidak menular karena jumlah basil lepra yang berada di tubuh penderita masih sedikit, tapi bila kusta kering ini tidak diobati maka akan menjadi kusta basah yang bisa menularkan ke orang lain. Sedangkan, Kusta Basah, jenis kusta ini yang bisa menularkan ke orang lain karena jumlah basilnya sangat banyak bisa ratusan juta. Basil Lepra ini dapat ditemukan di hati, otak, ginjal, mata, hidung, kulit, dll.

Seseorang yang menderita Kusta biasanya mengalami beberapa tanda-tanda. Tanda-tanda penyakit Kusta yaitu antara lain tanda-tanda pada kulit dan pada syaraf. Tanda-tanda pada kulit meliputi : kelainan pada kulit berupa bercak kemerahan, keputihan, atau benjolan, kulit mengkilap, bercak yang tidak gatal, adanya bagian tubuh yang tidak berkeringat dan tidak berambut, lepuh tapi tidak nyeri. Tanda-tanda pada syaraf meliputi : rasa kesemutan, tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan atau muka, gangguan kerak pada anggota badan atau bagian muka, adanya kecacatan (deformitas) pada bagian tubuh, terdapat luka tapi tidak sakit.

Penularan penyakit kusta dapat melalui kontak kulit yang erat dan lama.
Kuman kusta itu bukan kuman yang 'ganas' jadi penularannya agak sulit. Makanya dibutuhkan waktu yang lama dan kontak yang erat supaya si kuman ini bisa ditransmisikan dalam jumlah yang banyak ke orang lain. Kemudian melalui udara (aerogen)
ingus orang yang menderita kusta ditemukan kuman ini.

Sejak 1995, WHO memberikan paket obat terapi kusta secara gratis pada negara endemik, melalui Kementrian Kesehatan. Pengobatan multiobat masih efektif dan pasien tidak lagi terinfeksi pada pemakaian bulan pertama. Cara ini aman dan mudah. Jangka waktu pemakaian telah tercantum pada kemasan obat. Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa kuman kusta yang masih utuh bentuknya, lebih besar kemungkinan menimbulkan penularan dibandingkan dengan yang tidak utuh. Sehingga, pengobatan kepada penderita kusta adalah merupakan salah satu cara pemutusan mata rantai penularan.

Pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari penyakit Kusta yaitu dengan mencegah kontak dengan kulit penderita, meningkatkan sistem imun dengan melakukan hidup sehat , meningkatkan kebersihan lingkungan, diagnosis dan pengobatan yang segera.


Oleh : Niswatun Nafi’ah, SKM
Penyuluh Kesehatan Masyarakat Puskesmas Danasari

Read more.....

Jumat, 15 November 2013

Diabetes dan Pencegahannya


Setiap tanggal 14 November diperingati sebagai hari Diabetes sedunia. Hal ini menjadi momentum untuk menerapkan gaya hidup sehat agar dapat terhindar dari Penyakit Diabetes. Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang juga dikenal sebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula darah adalah penyakit menahun yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh.

Seseorang yang menderita Diabetes Mellitus mempunyai beberapa gejala, antara lain : jumlah urine yang dikeluarkan lebih banyak (Polyuria), sering atau cepat merasa haus/dahaga (Polydipsia), lapar yang berlebihan atau makan banyak (Polyphagia), frekuensi urine meningkat/kencing terus (Glycosuria), kehilangan berat badan yang tidak jelas sebabnya , kesemutan/mati rasa pada ujung syaraf ditelapak tangan & kaki, cepat lelah dan lemah setiap waktu, mengalami rabun penglihatan secara tiba-tiba, apabila luka/tergores (korengan) lambat penyembuhannya, mudah terkena infeksi terutama pada kulit.

Penyakit DM mempunyai beberapa tipe, yaitu DM tergantung insulin (DM tipe-1) dan DM tidak tergantung insulin (DM tipe-2). DM tipe-1 banyak dipengaruhi faktor keturunan, meskipun kontribusi faktor keturunan terhadap risiko diabetes hanya sebesar 5%. DM tidak tergantung insulin (DM tipe-2). Sebagian besar kasus adalah DM tipe-2 yang banyak ditemukan pada orang yang mengalami obesitas/ kegemukan.

Penyakit Diabetes Mellitus tidak bisa disembuhkan tetapi bisa dikendalikan asalkan dikelola dengan tepat. Cara mengendalikan Diabetes Mellitus yaitu dengan pencegahan dan pengobatan. Pencegahan Diabetes Mellitus dapat melalui beberapa cara, yaitu : makan makanan seimbang dan disesuaikan dengan umur (diet), olah raga secara rutin, minimal 30 menit dalam 3-5 kali seminggu, tidak merokok, serta tidak minum minuman beralkohol. Diet penderita Diabetes Mellitus dapat melalui 3 J (Jadwal, Jenis dan Jumlah makanan). Makan 3 kali sehari, terdiri dari: 1piring nasi/penggantinya, 1potong lauk nabati/penggantinya, 1 potong lauk hewani/penggantinya, 1 mangkuk sayuran/penggantinya ditambah buah-buahan, makanan selingan. Selain itu penderita Diabetes Mellitus harus mengurangi makanan berlemak, menghindari makanan bergula serta berolahraga secara teratur. Sedangkan untuk pengobatan Diabetes Mellitus dapat dikonsultasikan kepada Dokter Spesialis Penyakit Dalam untuk diberikan obat yang tepat.

Bahan makanan yang dianjurkan bagi penderita Diabetes Mellitus yaitu : sumber protein Hewani: daging kurus, ayam tanpa kulit, ikan dan putih telur, sumber protein nabati: tempe, tahu, kacang-kacangan (kacang ijo, kacang merah, kacang kedele), sayuran: kangkung, daun kacang, oyong, ketimun, tomat, labu air, kol, kembang kol, sawi, lobak, seledri, selada, terongan, buah-buahan atau sari buah: jeruk siam, apel, pepaya, melon, jambu air, salak, semangka, belimbing.

Bahan makanan yang harus dibatasi bagi penderita Diabetes Mellitus yaitu sumber protein hewani yang tinggi lemak jenuhnya: cornet, sosis, sarden, jeroan, otak, semua sumber hidrat arang: nasi, nasi tim, bubur, roti, jagung, talas, ubi, kentang, sereal, mie, ketan, makaroni , sayuran: bayam, buncis, labu siam, daun singkong, daun ketela, jagung muda, kapri, kacang panjang, pare, buah-buahan: nanas, anggur, mangga, sirsak, pisang, alpukat, susu penuh (fullcream), keju, mayonnaise, makanan yang digoreng dan menggunakan santal kental, minuman yang menggunakan alkohol, kopi, teh kental dan soft drink.

Bahan makanan yang harus dihindari antara lain gula pasir, gula merah, gula batu, madu, makanan dan minuman yang manis: abon, dendeng, cake, kue-kue manis, dodol, sirup, selai manis, coklat, permen, susu kental manis, soft drink, es krim, bumbu-bumbu yang manis: kecap, saus tiram, buah-buahan yang manis dan diawetkan: durian, nangka, alpukat, kurma, manisan buah, tape.

Penyakit DM, bisa menyebabkan komplikasi, jika tidak ditangani dengan tepat. Seperti; kebutaan, penyakit ginjal, syaraf, jantung, hipertensi, stroke, luka yang sulit sembuh/membusuk sehingga diamputasi, impotensi dan cacat. Cegah Diabetes Mellitus dengan gaya hidup sehat.

Oleh : Niswatun Nafi’ah, SKM
Penyuluh Kesehatan Masyarakat Puskesmas Danasari

Read more.....

Sabtu, 07 September 2013

Kompetensi Pengembangan Desa Siaga

Desa siaga adalah suatu kondisi masyarakat tingkat desa / kelurahan yang memiliki kesiapan sumber daya potensial dan kemampuan mengatasi masalah kesehatan, bencana, dan kegawatdaruratan tertentu secara mandiri. Inti kegiatan pengembangan desa siaga adalah memberdayakan masyarakat agar mau dan mampu untuk hidup sehat, mampu mencegah dan mengatasi masalah kesehatan secara mandiri. Desa siaga mencakup konsep pelayanan kesehatan dasar,mengembangkan surveilance dan menciptakan perilaku hidup bersih dan sehat.

Dalam melaksanakan program pengembangan desa siaga, desa dapat melaksanakan 8 kompetensi Desa Siaga yang meliputi 1) melakukan pengamatan penyakit, gizi, kesehatan lingkungan dan perilaku masyarakat dalam rangka survei mawas diri, 2) melakukan Musyawarah Masyarakat Desa dalam penggalangan komitmen Desa Siaga, 3) memberikan pelayanan kesehatan promotif dan preventif, 4) melakukan administrasi desa siaga, 5) menggalang jejaring kemitraan potensi yang ada di desa, 6) menerapkan teknologi tepat guna sesuai dengan potensi yang ada, 7) menggali pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat, dan 8) mengelola upaya kesehatan berbasis masyarakat.

Pengamatan penyakit, Gizi, Kesehatan Lingkungan dan perilaku masyarakat dalam rangka survei mawas diri dilakukan secara terus menerus di setiap RW terhadap gejala atau penyakit menular potensial KLB, penyakit tidak menular termasuk gizi buruk, faktor resiko perilaku buruk masyarakat yang dapat menimbulkan Penyakit, faktor Lingkungan yang tidak menguntungkan terhadap kesehatan, kejadian dan kondisi lain masyarakat. Bentuk pengamatan dilakukan oleh masyarakat, kader kesehatan, anggota forum kesehatan desa dan di laporkan secara tertulis. Kemudian data tersebut dipakai sebagai bahan untuk SMD (Survei Mawas Diri) di tingkat desa. Survei mawas diri bertujuan agar Forum Kesehatan Desa mampu melakukan telaah mawas diri untuk desanya, diharapkan mereka menjadi sadar akan permasalahan yang dihadapi didesanya, serta bangkit niat atau tekad untuk mencari solusinya.

Kegiatan setelah SMD yaitu melakukan Musyawarah Masyarakat Desa dalam penggalangan komitmen Desa Siaga. Pada kegiatan ini anggota FKD beserta kader kesehatan mencari alternatif penyelesaian masalah kesehatan dan upaya membangun masyarakat sehat dikaitkan dengan potensi yang dimiliki pada saat SMD dilaksanakan, utamanya daftar masalah kesehatan, data potensi, serta harapan masyarakat. Hasil pendataan tersebut di musyawarahkan untuk penentuan prioritas, analisa masalah, penyelesaian masalah, serta rencana tindak lanjut dan kegiatan yang akan dilaksanakan bulan depan untuk pembangunan kesehatan dan pengembangan desa siaga. Kemudian desa membuat rencana tindak lanjut dalam bentuk matrik dirinci mulai dari nama kegiatan, tujuan, sasaran, waktu, tempat, pelaksana, penanggung jawab dan dana.

Selanjutnya kegiatan yang dilaksanakan yaitu memberikan pelayanan kesehatan promotif dan preventif. Berdasarkan hasil Musyawarah Masyarakat Desa (MMD), maka dilakukan kegiatan untuk mengatasi masalah kesehatan yang ada di desa tersebut, salah satunya adalah kegiatan pelayanan kesehatan promotif atau penyuluhan. Penyuluhan ini dilaksanakan oleh anggota FKD, kader posyandu dan bidan desa. Kegiatan penyuluhan dimaksudkan agar pengetahuan masyarakat meningkat sehingga bisa merubah perilaku. Pelayanan kesehatan preventif yang dilakukan oleh anggota FKD adalah dengan menggerakan masyarakat untuk melakukan pencegahan penyakit, misal Pemantauan Jentik dan PSN oleh kader posyandu untuk mencegah dan memberantas penyakit Demam Berdarah. Semua Balita diharuskan sudah mendapatkan lima Imunisasi dasar lengkap sebelum berumur satu tahun untuk mencegah penularan penyakit tuberkulosis, hepatitis, polio, campak, diptheri, pertusis, dan tetanus.

Kegiatan selanjutnya yaitu melakukan administrasi desa siaga. Semua tahapan kegiatan desa siaga mulai dari pengamatan penyakit, survei mawas diri, Musyawarah Masyarakat Desa, rencana tindak lanjut dan pelaksanaan kegiatan harus dilaporkan dan ditulis dalam bentuk buku. Buku laporan yang harus dibuat minimal buku kunjungan rumah, buku survei mawas diri, daftar hadir, notulen rapat, rencana lindak lanjut, dan hasil pelaksanaan kegiatan.

Setelah itu dilakukan penggalangan jejaring kemitraan potensi yang ada di desa. Dalam setiap pertemuan musyawarah masyarakat desa, anggota FKD selalu mengundang organisasi yang ada di desa, Baperdes, Tim penggerak PKK, Karang taruna, Pengurus RT/RW, dan diharapkan dengan adanya kemitraan ini semua program desa siaga dapat terlaksana bersama–sama dengan potensi yang ada di desa tersebut sehingga dapat berjalan dengan baik dan dapat mengatasi masalah kesehatan secara mandiri.

Penerapan teknologi tepat guna sesuai dengan potensi yang ada juga penting untuk dilakukan. Contoh teknologi tepat guna yang dapat dilakukan oleh petugas di puskesmas adalah pemberian dan pemasangan genting kaca pada rumah penduduk yang anggota keluarganya ada yang menderita Tuberculosis, diharapkan dengan adanya pemasangan genting kaca cahaya matahari yang masuk rumah mencegah penularan penyakit TB pada anggota keluarga yan lain.

Penggalian pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat adalah suatu tatanan yang menghimpun berbagai upaya penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan dana yang bersumber dari masyarakat untuk menjamin pemeliharaan kesehatan masyarakat. Bentuk penggalian dana yang dapat dilakukan berupa jimpitan, uang sukarela pada saat pertemuan arisan, anggaran dana desa, swadaya RT, hasil pelayanan Poliklinik Kesehatan Desa 10 % untuk kas desa. Pengalokasian dana adalah untuk operasional kegiatan desa siaga, yang antara lain untuk biaya pertemuan rutin bulanan FKD, uang transport kader dalam pemantauan jentik dan PSN, penyuluhan kesehatan kepada masyarakat, pemberian makanan tambahan khususnya balita gizi buruk dan umumnya balita pengunjung posyandu.

Pengelolaan upaya kesehatan berbasis masyarakat. Ketua FKD bertanggung jawab penuh dalam kegiatan UKBM yang ada di desa. Ketua FKD beserta pengurus harus melakukan pembinaan terus menerus jangan sampai posyandu Balita, Lansia, Posbindu (Pos Bina Terpadu) yang sudah berjalan dengan baik berhenti kegiatannya oleh karena sesuatu sebab. Ketua FKD beserta pengurus setiap bulan melakukan kunjungan supervisi di setiap posyandu balita, lansia dan posbindu untuk memotivasi para kader sekaligus pembinaan. Bila ada posyandu yang kekurangan/tidak ada kader, anggota FKD berkewajiban merekrut dan mendapatkan kader yang baru, selain itu juga perlu mengembangkan upaya–upaya untuk memenuhi kebutuhan para kader agar tidak drop out, kader–kader yang memiliki motivasi memuaskan kebutuhan sosial psikologisnya diberi kesempatan seluas–luasnya untuk mengembangkan motivasinya sedangkan kader yang ekonominya masih kurang dibantu untuk memperoleh tambahan penghasilan, misal dengan pemberian insentif atau modal usaha.

Oleh : Niswatun Nafi’ah, SKM
Penyuluh Kesehatan Masyarakat Puskesmas Danasari

Read more.....

Jumat, 02 Agustus 2013

ASI Eksklusif, Yes!

ASI (Air Susu Ibu) merupakan hak setiap bayi yang lahir ke dunia. Hak ini seharusnya diberikan oleh setiap ibu kepada bayinya sampai dengan si anak usia 2 tahun. Namun dari bayi lahir sampai dengan usia 6 bulan, bayi cukup diberikan ASI saja tanpa makanan pendamping lain, atau yang disebut dengan ASI Eksklusif. Pada tahun 2001 World Health Organization / Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik.


Pemberian ASI Eksklusif sampai 6 bulan dan tetap dilanjutkan sampai dengan 2 tahun tentunya mempunyai beberapa keuntungan untuk anak, antara lain : 1) mengandung berbagai enzim untuk membantu proses pencernaan, 2) kandungan gizi yang lengkap dan optimal sesuai kebutuhan perkembangan bayi, 3) memberikan perlindungan terhadap berbagai penyakit, 4) menurunkan risiko alergi pada bayi dengan riwayat keluarga menderita alergi, 5) ASI dapat diminum setiap saat (tidak perlu menunggu), 6) ASI meningkatkan perkembangan otak yang optimal, 7) menyusu langsung dari puting ibu akan membuat perkembangan rahang dan gigi yang baik, serta 8) Kedekatan dengan ibu akan lebih berkembang.

Selain itu, untuk si ibu, pemberian ASI mempunyai beberapa manfaat : 1) mengurangi kemungkinan perdarahan pasca persalinan, 2) menghemat waktu karena ibu tidak perlu repot membersihkan dan melakukan sterilisasi botol susu dan juga mempersiapkan susu, 3) lebih mudah di saat berpergian karena tidak perlu membawa perlengkapan susu formula, botol, termos air dan berbagai perlengkapan lain yang merepotkan, 4) Sangat mengurangi biaya bulanan untuk membeli susu formula, 5) Kedekatan anak pada ibu menjadi lebih mendalam, dan 6) dapat menurunkan kemungkinan terjadinya kanker payudara dan indung telur.

WHO dan UNICEF merekomendasikan langkah-langkah berikut untuk memulai dan mencapai ASI eksklusif, antara lain : 1) Inisiasi Menyusu Dini (IMD), 2) Menyusui dalam satu jam setelah kelahiran , 3) Menyusui secara ekslusif: hanya ASI. Artinya, tidak ditambah makanan atau minuman lain, bahkan air putih sekalipun, 3) Menyusui kapanpun bayi meminta (on-demand), sesering yang bayi mau, siang dan malam, 4) Tidak menggunakan botol susu maupun empeng, 5) Mengeluarkan ASI dengan memompa atau memerah dengan tangan, disaat tidak bersama anak, serta 6) Mengendalikan emosi dan pikiran agar tenang.

Bagi ibu yang di rumah, memberikan ASI bukanlah sesuatu yang berat karena setiap saat Ibu bias memberikan ASInya kapan saja bayi mau. Namun tentunya bagi ibu yang bekerja bukanlah menjadi halangan untuk tetap memberikan ASI, karena Ibu bias menyimpan ASI di botol yang dimasukkan ke dalam kulkas, atau yang disebut dengan ASI Perah (ASIP). Ibu bisa melakukannya dengan memerah ASI di rumah dan di kantor tiap 2 jam sekali kemudian disimpan di botol. ASI perah yang disimpan di kulkas mempunyai ketahanan yang bagus, asal penyimpanannya benar. Berikut daya tahan ASI yang disimpan di dalam kulkas : 1) ASIP yang disimpan di suhu ruangan dapat bertahan 4-6 jam, 2)ASIP  yang disimpan di dalam termos berisi es batu akan tahan 24 jam, 3) ASIP yang disimpan di lemari es bawah (chiller) tahan 4 hari, 4) ASIP yang dibekukan dan disimpan di freezer kulkas 1 pintu tahan 2 minggu, di freezer kulkas 2 pintu tahan 3 bulan.

Tanggal 1-7 Agustus diperingati sebagai pekan ASI sedunia. Hal ini tentunya mengingatkan kita, bahwa ASI itu penting dan harus diberikan kepada anak. Selagi bisa,  berikanlah hanya ASI saja kepada bayi baru lahir saampai dengan 6 bulan, kemudian dilanjutkan ASI dan MPASI sampai dengan 2 tahun.

Oleh : Niswatun Nafi’ah, SKM
Penyuluh Kesehatan Masyarakat Puskesmas Danasari

Read more.....